Selasa, 29 Januari 2013

Perkembangan Remaja

Perkembangan merupakan istilah yang menunjukkan suatu perubahan pada aspek psikis dan lebih bersifat kualitatif, seperti aspek emosi, kognisi, bahasa, keagamaan, keluwesan dalam bertindak, dan sebagainya. Pertumbuhan lebih menunjukkan  pada perubahan individu dari segi fisik dan bersifat kuantitatif, seperti pertambahan tinggi badan, pertambahan atau perubahan jumlah tulang belulang, pertumbuhan gigi, dan lain-lain.

Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu; dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orangtua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan.

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Pada masa ini, remaja mencari jati dirinya yang dapat menjawab siapa dirinya, bagaimana orang lain menilai dirinya dan bagaimana hubungannya dengan orang di sekelilingnya. Mereka akan diombang-ambing perasaan antara masih anak-anak, tetapi mereka merasa sudah dewasa. Mereka akan mencari keseimbangan dengan memainkan beberapa peran yang dianggapnya baik. Pada umumnya kesadaran identitas anak akan berkembang dari penilaian oleh kelompoknya, orang tuanya, dan oleh dirinya sendiri (Erickson). Dalam perkembangan moralnya, mereka mulai mengenal nilai-nilai rohani, seperti nilai kebenaran, keadilan, kebaikan, keindahan dan ketuhanan.
Havighurst (Kimmel, 1995: 15) menawarkan suatu konsep tugas perkembangan yang meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap atau fungsi yang diharapkan dapat dicapai oleh individu pada setiap tahap perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan ini harus dicapai sebelum seorang individu melangkah ke tahapan perkembangan selanjutnya. Apabila seorang individu gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya, maka ia akan sulit untuk memenuhi tugas perkembangan fase selanjutnya. Atau, apabila ia gagal melaksanakan tugas perkembangannya pada waktu yang tepat, maka ia akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya di waktu yang lain, atau melaksanakan tugas perkembangan pada tahapan yang lebih lanjut.

Sangat diyakini bahwa tingkat perubahan yang dicapai seseorang akan sangat dipengaruhi oleh keragaman ‘tuntutan’ tingkat kematangan, pertumbuhan, perkembangan, dan lingkungannya. Tuntutan itu disebut dengan istilah tugas perkembangan. Karena tugas perkembangan itu umumnya digambarkan sebagai suatu kemampuan atau keterampilan yang harus dikuasai seseorang, maka menurut Nurhudaya (Supriatna, 2011: 119) tugas perkembangan dapat dirumuskan sebagai suatu atau seperangkat kompetensi yang harus dimiliki seseorang dalam setiap fase perkembangan, yang timbul dari tuntutan lingkungan (masyarakat, keluarga, lingkungan sosial, dan sebagainya), perkembangan fisik (kematangan organ-organ fisik), dan aspirasi, cita-cita atau karakteristik pribadi masing-masing individu. Keterampilan-keterampilan itu harus dimiliki atau dicapai oleh seseorang agar ia ‘menjadi seorang manusia’ atau dapat ‘mempertahankan dirinya sebagai manusia’, atau untuk dapat menjalani kehidupannya. Keterampilan atau kompetensi itu juga sering disebut dengan Life skills atau Skills for Life.

Tugas-tugas perkembangan seorang remaja menurut Havighurst adalah sebagai berikut :
• Mencapai suatu hubungan yang baru dan lebih matang antara lawan jenis yan seusia.
• Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan feminin.
• Menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif.
• Mengharapakan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab.
• Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
• Mempersiapkan karir ekonomi.
• Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
•Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan utnuk berperilkau dan mengembangkan ideologi.


Aspek-aspek tersebut adalah:
1.    Landasan Hidup Religius 
  • Sembahyang dan berdoa
  •  Belajar agama
  • Keimanan
  • Sabar
2.    Landasan Perilaku Etis 
  • Jujur
  • Hormat kepada orang tua
  • Sikap sopan dan santun
  • Ketertiban dan kepatuhan
3.    Kematangan Emosional 
  • Kebebasan dalam mengemukakan pendapat
  • Tidak cemas
  • Pengendalian emosi
  • Kemampuan menjaga stabilitas emosi
4.    Kematangan Intelektual 
  • Sikap kritis
  • Sikap rasional
  • Kemampuan membela hak pribadi
  • Kemampuan menilai
5.    Kesadaran Tanggung Jawab 
  • Mawas diri
  • Tanggung jawab atas tindakan pribadi
  • Partisipasi pada lingkungan
  • Displin
6.    Peran Sosial sebagai Pria dan Wanita 
  • Perbedaan pokok laki-laki dan perempuan
  • Peran sosial sesuai dengan jenis kelamin
  • Tingkah laku dan kegiatan sesuai dengan jenis kelamin
  • Cita-cita sesuai dengan jenis kelamin
7.    Penerimaan Diri dan Pengembangannya 
  • Kondisi fisik
  • Kondisi mental
  • Pengembangan cita-cita
  • Pengembangan pribadi
8.    Kemandirian Perilaku Ekonomis 
  • Upaya menghasilkan uang
  • Sikap hemat dan menabung
  • Bekerja keras dan ulet
  • Tidak mengharap pemberian orang
9.    Wawasan Persiapan Karir 
  • Pemahaman jenis kelamin
  • Kesungguhan belajar
  • Upaya meningkatkan keahlian
  • Perencanaan belajar
10.    Kematangan Hubungan dengan Teman Sebaya 
  • Pemahaman tingkah laku orang lain
  • Kemampuan berempati
  • Kerja sama
  • Kemampuan hubungan sosial
11.    Persiapan Diri untuk Pernikahan dan Hidup Berkeluarga 
  • Pemilihan pasangan/teman hidup
  • Kesiapan menikah
  • Membangun keluarga
  • Reproduksi yang sehat

    Tugas – tugas perkembangan remaja (adolescence) dan dewasa
Masa ini merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat (Konopka, dalam Pikunas, 1976 ; Kaczman & Riva, 1996). Remaja merupakan masa berkembangnya identity (identitas) (Erik Erickson (Adams & Gullota, 1983 : 36 – 37; Conger, 1977 : 92 – 93)).
    Identity adalah suatu pengorganisasian dorongan – dorongan (drives), kemampuan –
kemampuan (abilities), keyakinan – keyakinan (beliefs), dan pengalaman – pengalaman individu kedalam citra diri (images of self) yang konsisten (Anita E. Woolfolk).

    Seorang remaja dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya dapat dipisahkan ke dalam tiga tahap secara berurutan (Kimmel, 1995: 16)

•    Tahap yang pertama adalah remaja awal, 
di mana tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya sebagai remaja adalah pada penerimaan terhadap keadaan fisik dirinya dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Hal ini karena remaja pada usia tersebut mengalami perubahan-perubahan fisik yang sangat drastis, seperti pertumbuhan tubuh yang meliputi tinggi badan, berat badan, panjang organ-organ tubuh, dan perubahan bentuk fisik seperti tumbuhnya rambut, payudara, panggul, dan sebagainya.

•    Tahapan yang kedua adalah remaja madya, 
di mana tugas perkembangan yang utama adalah mencapai kemandirian dan otonomi dari orang tua, terlibat dalam perluasan hubungan dengan kelompok baya dan mencapai kapasitas keintiman hubungan pertemanan; dan belajar menangani hubungan heteroseksual, pacaran dan masalah seksualitas.

•    Tahapan yang ketiga adalah remaja akhir, 
di mana tugas perkembangan utama bagi individu adalah mencapai kemandirian seperti yang dicapai pada remaja madya, namun berfokus pada persiapan diri untuk benar-benar terlepas dari orang tua, membentuk pribadi yang bertanggung jawab, mempersiapkan karir ekonomi, dan membentuk ideologi pribadi yang di dalamnya juga meliputi penerimaan terhadap nilai dan sistem etik.
 
Demikianlah, penjelasan mengenai tugas-tugas perkembangan remaja sebagai satu bagian dalam memahami remaja sebagai suatu masa transisi. Diharapkan, pada saat ini kita telah sampai pada pemahaman bahwa sesungguhnya masa remaja adalah masa transisi yang menjembatani masa kanak-kanak yang tidak matang ke masa dewasa yang matang. Macam transisi yang berbeda akan membawa pengaruh yang berbeda pula bagi individu yang mengalaminya. Demikian pula dengan bagaimana cara kita melihat transisi tersebut akan mempengaruhi bagaimana kita dapat memahami apa yang dialami dan dirasakan oleh remaja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar